Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Isolasi Pati Dari Beberapa Jenis Kentang (Solanum tuberosum L.) Dan Uji Spesifikasi Eksipien Tablet. Kentang ( Solanum tuberosum L ) termasuk family Solaneceae. Kentang dapat digolongkan menurut warna umbinya, yaitu: kentang kuning, kentang putih, dan kentang merah. Kentang kuning memiliki kulit dan daging yang berwarna kuning.
Kentang putih berkulit dan berdaging putih. Dan kentang lainya yaitu kentang merah yang kulitnya berwarna merah, tetapi dagingnya kuning. Pembuatan pati kentang dengan cara mencucinya terlebih dahulu dan membuatnya menjadi bubur halus dengan menggunakan blender. Diperoleh masa seperiti bubur dab dilakukan pencucian bubur dengan mengganti airnya. Dan diperas ampas menggunakan kain belacu, filtrat dibiarkan selama 24 jam sambil diganti airnya metode dekantasi. Kemudian pati yang diperoleh ditentukan apakah memenuhi syarat yang tertera didalam Farmakope Indonesia.
Dari hasil uji spesifikasi eksipien tablet. Pati dari kentang merah yang memenuhi spesifikasi eksipien tablet, diantaranya bobot jenis benar 1,5057 g/cm3, bobot jenis nyata 0,6452 g/cm3, bobot jenis mampat 0,7700 g/cm3, viskositas pada suhu 300 C sebesar 2,4643 Poise dan pada suhu 600 C sebesar 9,9241 Poise, daya kompresibilitas sebesar 19,3424%, sudut angkat sebesar 26,980, faktor hausner sebesar 0,5113%.
Tampilkan postingan dengan label Farmasi 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Farmasi 1. Tampilkan semua postingan
Rabu, 21 Agustus 2013
Skripsi Farmasi Penetapan Kadar Kalsium Pada Ikan Teri Secara Kompleksometri
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Penetapan Kadar Kalsium Pada Ikan Teri Secara Kompleksometri. Ikan teri dapat menjadi salah satu sumber kalsium yang baik selain susu, karena ikan teri dikonsumsi utuh bersama tulangnya, berbeda dengan ikan lain yang hanya dikonsumsi dagingnya saja.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar kalsium yang terkandung dalam ikan teri. Dalam penelitian ini dianalisis tiga kelompok ikan teri yang berbeda ukuran yaitu kecil , sedang dan besar yang berasal dari pasar Kembang Tanjong dan Teupen Raya Kabupaten Pidie Nanggroe Aceh Darussalam.
Pemeriksaan kalsium dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan menggunakan pereaksi asam sulfat encer dan etanol, dan ammonium oksalat. Analisis kuantitatif dilakukan secara titrasi kompleksometri dengan menggunakan dinatrium EDTA sebagai pentiter dan kalkon campur sebagai indikator pada pH 13.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar kalsium dalam ikan teri yang berbeda ukuran adalah berbeda. Semakin besar ukuran ikan teri maka kadar kalsium semakin tinggi. Dari analisis diperoleh kadar kalsium yang terkandung dalam ikan teri yang berasal dari pasar Kembang Tanjong adalah 1981,63 ± 14,9547 mg/100 gram untuk ikan teri kecil, pada ikan teri sedang 2196,68 ± 10,1832 mg/100 gram dan pada ikan teri besar adalah 2284,50 ± 15,9736 mg/100 gram.
Sedangkan untuk ikan teri yang berasal dari pasar Teupen Raya adalah 1989 ± 14,5360 mg/100 gram untuk ikan teri kecil, pada ikan teri sedang 2207,23 ± 12,1305 mg/100 gram dan pada ikan teri besar adalah 2296,01 ± 11,4356 mg/100 gram.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar kalsium yang terkandung dalam ikan teri. Dalam penelitian ini dianalisis tiga kelompok ikan teri yang berbeda ukuran yaitu kecil , sedang dan besar yang berasal dari pasar Kembang Tanjong dan Teupen Raya Kabupaten Pidie Nanggroe Aceh Darussalam.
Pemeriksaan kalsium dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan menggunakan pereaksi asam sulfat encer dan etanol, dan ammonium oksalat. Analisis kuantitatif dilakukan secara titrasi kompleksometri dengan menggunakan dinatrium EDTA sebagai pentiter dan kalkon campur sebagai indikator pada pH 13.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar kalsium dalam ikan teri yang berbeda ukuran adalah berbeda. Semakin besar ukuran ikan teri maka kadar kalsium semakin tinggi. Dari analisis diperoleh kadar kalsium yang terkandung dalam ikan teri yang berasal dari pasar Kembang Tanjong adalah 1981,63 ± 14,9547 mg/100 gram untuk ikan teri kecil, pada ikan teri sedang 2196,68 ± 10,1832 mg/100 gram dan pada ikan teri besar adalah 2284,50 ± 15,9736 mg/100 gram.
Sedangkan untuk ikan teri yang berasal dari pasar Teupen Raya adalah 1989 ± 14,5360 mg/100 gram untuk ikan teri kecil, pada ikan teri sedang 2207,23 ± 12,1305 mg/100 gram dan pada ikan teri besar adalah 2296,01 ± 11,4356 mg/100 gram.
Skripsi Farmasi Karakterisasi Simplisia, Skrining Fitokimia Dan Uji Sitotoksisitas Ekstrak Daun Tumbuhan Sirsak (Annona muricata L.) Terhadap Larva Artemia salina Leach
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Karakterisasi Simplisia, Skrining Fitokimia Dan Uji Sitotoksisitas Ekstrak Daun Tumbuhan Sirsak (Annona muricata L.) Terhadap Larva Artemia salina Leach. Tumbuhan sirsak (Annona muricata L.) termasuk dalam familia Annonaceae. Daun sirsak kaya akan metabolit sekunder yang bermanfaat sebagai obat.
Masyarakat memanfaatkan daun sirsak untuk mengobati berbagai macam penyakit, bahkan rebusan daun sirsak dikatakan dapat digunakan sebagai obat alternatif untuk penyakit kanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai karakteristik daun sirsak, golongan senyawa dari simplisia daun sirsak, dan aktivitas sitotoksisitas ekstrak daun sirsak terhadap larva Artemia salina Leach.
Karakterisasi simplisia daun sirsak dilakukan dengan pemeriksaan kadar air, kadar sari yang larut dalam air, kadar sari yang larut dalam etanol, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut dalam asam. Ekstrak daun sirsak dilakukan secara perkolasi bertingkat dengan menggunakan pelarut n-heksan, etilasetat dan etanol. Terhadap masing-masing ekstrak diuji aktivitas sitotoksisitasnya dengan metode brine shrimp lethally test. Data diolah menggunakan analisis regresi linear untuk memperoleh harga LC50.
Hasil karakterisasi simplisia memberikan kadar air 5,97%, kadar sari yang larut dalam air 18,19%, kadar sari larut dalam etanol 15,06%, kadar abu total 5,42%, dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,25% . Hasil pemeriksaan mikroskopik tampak sel epidermis, kutikula tebal, terdapat stomata tipe anomositik, rambut penutup. Berkas pembuluh tipe kolateral dan dikelilingi oleh serabut. Hasil uji sitotoksisitas dari ekstrak n-heksana, etilasetat, dan etanol simplisia daun sirsak terhadap larva Artemia salina Leach ditunjukkan dengan nilai LC50 berturut-turut 3,66µg/ml, 1,75 µg/ml, dan 0,73 µg/ml.
Masyarakat memanfaatkan daun sirsak untuk mengobati berbagai macam penyakit, bahkan rebusan daun sirsak dikatakan dapat digunakan sebagai obat alternatif untuk penyakit kanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai karakteristik daun sirsak, golongan senyawa dari simplisia daun sirsak, dan aktivitas sitotoksisitas ekstrak daun sirsak terhadap larva Artemia salina Leach.
Karakterisasi simplisia daun sirsak dilakukan dengan pemeriksaan kadar air, kadar sari yang larut dalam air, kadar sari yang larut dalam etanol, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut dalam asam. Ekstrak daun sirsak dilakukan secara perkolasi bertingkat dengan menggunakan pelarut n-heksan, etilasetat dan etanol. Terhadap masing-masing ekstrak diuji aktivitas sitotoksisitasnya dengan metode brine shrimp lethally test. Data diolah menggunakan analisis regresi linear untuk memperoleh harga LC50.
Hasil karakterisasi simplisia memberikan kadar air 5,97%, kadar sari yang larut dalam air 18,19%, kadar sari larut dalam etanol 15,06%, kadar abu total 5,42%, dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,25% . Hasil pemeriksaan mikroskopik tampak sel epidermis, kutikula tebal, terdapat stomata tipe anomositik, rambut penutup. Berkas pembuluh tipe kolateral dan dikelilingi oleh serabut. Hasil uji sitotoksisitas dari ekstrak n-heksana, etilasetat, dan etanol simplisia daun sirsak terhadap larva Artemia salina Leach ditunjukkan dengan nilai LC50 berturut-turut 3,66µg/ml, 1,75 µg/ml, dan 0,73 µg/ml.
Skripsi Farmasi Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis L.f.) Sebagai Pewarna
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis L.f.) Sebagai Pewarna. Daun jati muda (Tectona grandis L.f.) telah sejak lama digunakan masyarakat secara tradisional sebagai pewarna kain, tikar, dan juga makanan.
Daun jati muda memiliki kandungan pigmen alamiah, salah satunya adalah golongan antosianin, yaitu pelargonidin. Peneliti membuat formulasi sediaan lipstik dengan memanfaatkan pigmen alamiah yang terkandung dalam daun jati muda. Formulasi sediaan lipstik terdiri dari beberapa komponen diantaranya cera alba, lanolin, vaselin alba, cetaceum, setil alkohol, oleum ricini, propilen glikol, titanium dioksida, minyak mawar (oleum rosae), butil hidroksitoluen, nipagin, serta penambahan pewarna ekstrak daun jati dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5% dan 15%.
Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan mutu fisik sediaan mencakup pemeriksaan homogenitas, titik lebur, kekuatan lipstik, uji stabilitas terhadap perubahan bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 30 hari pada suhu kamar, uji oles, dan pemeriksaan pH, serta uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic Test).
Formulasi sediaan lipstik menggunakan pewarna ekstrak daun jati menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat cukup stabil, homogen, titik lebur 65ºC, memiliki kekuatan lipstik yang baik, mudah dioleskan dengan warna yang merata, pH berkisar antara 4,3-4,6, serta tidak menyebabkan iritasi sehingga cukup aman untuk digunakan, dan sediaan yang paling disukai adalah sediaan 4 yaitu sediaan dengan konsentrasi pewarna ekstrak daun jati 10%.
Daun jati muda memiliki kandungan pigmen alamiah, salah satunya adalah golongan antosianin, yaitu pelargonidin. Peneliti membuat formulasi sediaan lipstik dengan memanfaatkan pigmen alamiah yang terkandung dalam daun jati muda. Formulasi sediaan lipstik terdiri dari beberapa komponen diantaranya cera alba, lanolin, vaselin alba, cetaceum, setil alkohol, oleum ricini, propilen glikol, titanium dioksida, minyak mawar (oleum rosae), butil hidroksitoluen, nipagin, serta penambahan pewarna ekstrak daun jati dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5% dan 15%.
Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan mutu fisik sediaan mencakup pemeriksaan homogenitas, titik lebur, kekuatan lipstik, uji stabilitas terhadap perubahan bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 30 hari pada suhu kamar, uji oles, dan pemeriksaan pH, serta uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic Test).
Formulasi sediaan lipstik menggunakan pewarna ekstrak daun jati menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat cukup stabil, homogen, titik lebur 65ºC, memiliki kekuatan lipstik yang baik, mudah dioleskan dengan warna yang merata, pH berkisar antara 4,3-4,6, serta tidak menyebabkan iritasi sehingga cukup aman untuk digunakan, dan sediaan yang paling disukai adalah sediaan 4 yaitu sediaan dengan konsentrasi pewarna ekstrak daun jati 10%.
Skripsi Farmasi Uji Efek Hipoglikemik Natrium Alginat Dari Rumput Laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh Terhadap Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Uji Efek Hipoglikemik Natrium Alginat Dari Rumput Laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh Terhadap Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan. Diabetes mellitus ( DM ) merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Diabetes mellitus disebabkan oleh kekurangan hormon insulin yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan sintesa lemak sehingga kekurangan hormon insulin dapat menyebabkan glukosa meningkat di dalam darah. Natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut coklat jenis Sargassum sp. diduga berguna bagi penderita penyakit diabetes mellitus karena dapat memperlambat penyerapan glukosa pada saluran cerna ke dalam aliran darah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh terhadap kadar glukosa darah tikus yang diinduksi aloksan. Penelitian meliputi karakterisasi ampas simplisia, isolasi alginat, dan pengujian efek penurun kadar glukosa darah dari natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh terhadap tikus yang dibuat diabetes. Sebelum digunakan tikus terlebih dahulu diinduksi dengan aloksan 130 mg/Kg BB secara intraperitoneal. Peningkatan kadar glukosa darah diukur pada hari ke-3. Selanjutnya tikus dikelompokkan menjadi 5 kelompok dan diberikan suspensi natrium alginat secara oral dengan dosis 200, 400, 800 mg/kg BB, metformin dosis 50 mg/kg BB sebagai pembanding positif, dan suspensi Na-CMC 0,5% sebagai pembanding negatif. Pengujian dilakukan pada hari ke-6 dan ke-9. Data yang diperoleh dianalisis secara analisis variansi kemudian dilanjutkan dengan metode Duncan.
Hasil pemeriksaan karakterisasi ampas simplisia rumput laut diperoleh kadar air 12,62% (v/b), kadar sari larut dalam air 5,43% (b/b), kadar abu total 9,30% (b/b), kadar abu tidak larut dalam asam 0,39% (b/b). Hasil pengujian statistik (α=0,05) menunjukkan bahwa pada pemberian natrium alginat dosis 800 mg/kg BB memberikan penurunan kadar glukosa darah yang tidak berbeda secara nyata dengan pemberian suspensi metformin 50 mg/kg BB, sedangkan natrium alginat 200 dan 400 mg/Kg BB memberikan penurunan kadar glukosa darah yang berbeda secara nyata dengan pemberian suspensi metformin 50 mg/kg BB.
Diabetes mellitus disebabkan oleh kekurangan hormon insulin yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan sintesa lemak sehingga kekurangan hormon insulin dapat menyebabkan glukosa meningkat di dalam darah. Natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut coklat jenis Sargassum sp. diduga berguna bagi penderita penyakit diabetes mellitus karena dapat memperlambat penyerapan glukosa pada saluran cerna ke dalam aliran darah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh terhadap kadar glukosa darah tikus yang diinduksi aloksan. Penelitian meliputi karakterisasi ampas simplisia, isolasi alginat, dan pengujian efek penurun kadar glukosa darah dari natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh terhadap tikus yang dibuat diabetes. Sebelum digunakan tikus terlebih dahulu diinduksi dengan aloksan 130 mg/Kg BB secara intraperitoneal. Peningkatan kadar glukosa darah diukur pada hari ke-3. Selanjutnya tikus dikelompokkan menjadi 5 kelompok dan diberikan suspensi natrium alginat secara oral dengan dosis 200, 400, 800 mg/kg BB, metformin dosis 50 mg/kg BB sebagai pembanding positif, dan suspensi Na-CMC 0,5% sebagai pembanding negatif. Pengujian dilakukan pada hari ke-6 dan ke-9. Data yang diperoleh dianalisis secara analisis variansi kemudian dilanjutkan dengan metode Duncan.
Hasil pemeriksaan karakterisasi ampas simplisia rumput laut diperoleh kadar air 12,62% (v/b), kadar sari larut dalam air 5,43% (b/b), kadar abu total 9,30% (b/b), kadar abu tidak larut dalam asam 0,39% (b/b). Hasil pengujian statistik (α=0,05) menunjukkan bahwa pada pemberian natrium alginat dosis 800 mg/kg BB memberikan penurunan kadar glukosa darah yang tidak berbeda secara nyata dengan pemberian suspensi metformin 50 mg/kg BB, sedangkan natrium alginat 200 dan 400 mg/Kg BB memberikan penurunan kadar glukosa darah yang berbeda secara nyata dengan pemberian suspensi metformin 50 mg/kg BB.
Skripsi Farmasi Karakterisasi Simplisia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak n-Heksan, Etil Asetat dan Etanol Daun Muda Dari Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) Dengan Metode DPPH
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Karakterisasi Simplisia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak n-Heksan, Etil Asetat dan Etanol Daun Muda Dari Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) Dengan Metode DPPH. Madu merupakan cairan kental yang di kumpulkan dalam indung madu oleh lebah. Madu mengandung asam organik, enzim, asam fenolat, flavonoid, beta karoten, Vitamin A, vitamin C dan Vitamin E.
Dalam madu terdapat banyak nutrisi yang berfungsi sebagai antioksidan dan semua senyawa tersebut bekerjasama dalam melindungi sel normal dan menetralisir radikal bebas. Telah dilakukan karakterisasi dan penentuan aktivitas antioksidan pada madu hutan Lhoknga, hutan Montasik dan hutan Sare. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan peredaman 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) secara spektrofotometri visible.
Karakterisasi madu dilakukan dengan pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, penetapan kadar air, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut dalam asam. Madu di uji aktivitas antioksidannya sebagai penangkap radikal 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) secara spektrofotometri visibel. Data diolah menggunakan rumus persen inhibihi untuk mendapatkan aktivitas antioksidan.. Hasil pemeriksaan makroskopik dilakukan terhadap ketiga madu hutan Lhoknga, Montasik dan Sare merupakan cairan kental, berwarna coklat kemerahan, coklat kekuningan, coklat kekuningan tua, mempunyai bau dan rasa yang khas.
Hasil mikroskopik madu menunjukkan adanya butir butir serbuk sari. Kadar air masing masing madu yang diperoleh 20,62%; 23,94%; 21,91%, kadar abu total 0,23%; 0,24%; 0,23% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,13%; 0,10%; 0,11%. Hasil uji aktivitas antioksidan ketiga madu dengan konsentrasi masing-masing 3000 µg/ml, 4000 µg/ml, 5000 µg/ml diperoleh nilai aktivitas antioksidan madu hutan Lhoknga 73,34%; 73,89%; 79,66%; madu Montasik 63,36%; 68,88%; 74,18; madu Sare 65,58%; 67,17%; 75,06%. Sedangkan BHT sebagai pembanding dengan konsentrasi 20 µg/ml, 40 µg/ml, 60 µg/ml diperoleh nilai aktivitas antioksidan 74,46%; 83,31%; 86,87%. BHT pada konsentrasi 20 µg/ml menunjukkan aktivitas antioksidan yang hampir sama dibandingkan dengan ketiga madu pada konsentrasi 5000 µg/ml. Peningkatan aktivitas antioksidan mempunyai arti bahwa telah terjadinya penangkapan radikal DPPH oleh madu.
Dalam madu terdapat banyak nutrisi yang berfungsi sebagai antioksidan dan semua senyawa tersebut bekerjasama dalam melindungi sel normal dan menetralisir radikal bebas. Telah dilakukan karakterisasi dan penentuan aktivitas antioksidan pada madu hutan Lhoknga, hutan Montasik dan hutan Sare. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan peredaman 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) secara spektrofotometri visible.
Karakterisasi madu dilakukan dengan pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, penetapan kadar air, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut dalam asam. Madu di uji aktivitas antioksidannya sebagai penangkap radikal 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) secara spektrofotometri visibel. Data diolah menggunakan rumus persen inhibihi untuk mendapatkan aktivitas antioksidan.. Hasil pemeriksaan makroskopik dilakukan terhadap ketiga madu hutan Lhoknga, Montasik dan Sare merupakan cairan kental, berwarna coklat kemerahan, coklat kekuningan, coklat kekuningan tua, mempunyai bau dan rasa yang khas.
Hasil mikroskopik madu menunjukkan adanya butir butir serbuk sari. Kadar air masing masing madu yang diperoleh 20,62%; 23,94%; 21,91%, kadar abu total 0,23%; 0,24%; 0,23% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,13%; 0,10%; 0,11%. Hasil uji aktivitas antioksidan ketiga madu dengan konsentrasi masing-masing 3000 µg/ml, 4000 µg/ml, 5000 µg/ml diperoleh nilai aktivitas antioksidan madu hutan Lhoknga 73,34%; 73,89%; 79,66%; madu Montasik 63,36%; 68,88%; 74,18; madu Sare 65,58%; 67,17%; 75,06%. Sedangkan BHT sebagai pembanding dengan konsentrasi 20 µg/ml, 40 µg/ml, 60 µg/ml diperoleh nilai aktivitas antioksidan 74,46%; 83,31%; 86,87%. BHT pada konsentrasi 20 µg/ml menunjukkan aktivitas antioksidan yang hampir sama dibandingkan dengan ketiga madu pada konsentrasi 5000 µg/ml. Peningkatan aktivitas antioksidan mempunyai arti bahwa telah terjadinya penangkapan radikal DPPH oleh madu.
Skripsi Farmasi Penetapan Kadar Pirazinamida Dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet dalam Sediaan Tablet
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Penetapan Kadar Pirazinamida Dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet dalam Sediaan Tablet. Pirazinamida adalah suatu obat antituberkulosis sintetik dan efektif digunakan peroral serta bersifat bakterisidal yang digunakan bersama-sama dengan isoniazid dan rifampisin.
Pirazinamida bersifat bakterisidal kuat terhadap organisme intrasel. Pirazinamida harus dihidrolisis secara enzimatik menjadi asam pirazinoat yang merupakan metabolit aktif utama dari pirazinamida Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kadar pirazinamida dalam sediaan tablet dengan metode spektrofotometri ultraviolet.
Metode ini relatif lebih murah dan mudah dalam pelaksanaannya, namun memberikan hasil dengan akurasi dan presisi yang baik. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu secara spektrofotometri ultraviolet dalam pelarut HCl 0,1N pada panjang gelombang 268 nm. Dari hasil penelitian diperoleh kadar tablet pirazinamida generik (Indofarma) sebesar 100.02% ± 0,58, dan tablet nama dagang Sanazet® (Sanbe) sebesar 98,75% ± 2,13, Siranamid® (Mersi) sebesar 97,98% ± 2,34, TB Zet® (Meprofarm) sebesar 98,74% ± 1,13, Pezeta Ciba® (Sandoz) sebesar 98,67% ± 1,39. Metode ini memenuhi persyaratan uji validasi dengan persen perolehan kembali 99,20% dan relatif standar deviasi (RSD) 1,07%, batas deteksi (LOD) 0,2088 µg/ml dan batas kuantitasi (LOQ) 0,6962 µg/ml.
Hasil penelitian menunjukkan kadar pirazinamida dalam sediaan tablet generik dan nama dagang memenuhi persyaratan tablet menurut Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 93,0% dan tidak lebih dari 107,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.
Pirazinamida bersifat bakterisidal kuat terhadap organisme intrasel. Pirazinamida harus dihidrolisis secara enzimatik menjadi asam pirazinoat yang merupakan metabolit aktif utama dari pirazinamida Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kadar pirazinamida dalam sediaan tablet dengan metode spektrofotometri ultraviolet.
Metode ini relatif lebih murah dan mudah dalam pelaksanaannya, namun memberikan hasil dengan akurasi dan presisi yang baik. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu secara spektrofotometri ultraviolet dalam pelarut HCl 0,1N pada panjang gelombang 268 nm. Dari hasil penelitian diperoleh kadar tablet pirazinamida generik (Indofarma) sebesar 100.02% ± 0,58, dan tablet nama dagang Sanazet® (Sanbe) sebesar 98,75% ± 2,13, Siranamid® (Mersi) sebesar 97,98% ± 2,34, TB Zet® (Meprofarm) sebesar 98,74% ± 1,13, Pezeta Ciba® (Sandoz) sebesar 98,67% ± 1,39. Metode ini memenuhi persyaratan uji validasi dengan persen perolehan kembali 99,20% dan relatif standar deviasi (RSD) 1,07%, batas deteksi (LOD) 0,2088 µg/ml dan batas kuantitasi (LOQ) 0,6962 µg/ml.
Hasil penelitian menunjukkan kadar pirazinamida dalam sediaan tablet generik dan nama dagang memenuhi persyaratan tablet menurut Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 93,0% dan tidak lebih dari 107,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.
Sskripsi Farmasi Uji Aktivitas Antibakteriekstrak Etanol Daun Kembang Bulan(Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus, Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Uji Aktivitas Antibakteriekstrak Etanol Daun Kembang Bulan(Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus, Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa. Kembang bulan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) familia Asteraceae merupakan salah satu tanaman obat yang digunakan sebagai obat tradisional di Indonesia.
Tanaman ini digunakan sebagai obat luka atau luka lebam, berkhasiat sebagai obat sakit perut kembung, penyakit lepra, dan penyakit lever.Daun kembang bulan mengandung flavonoida, glikosida, saponin, tanin dan triterpenoid/steroid.Senyawa fenol seperti flavonoid dan tanin memiliki aktivitas sebagai antibakteri.
Adanya kandungan senyawa flavonoid dan tanin tersebut, diharapkan ekstrak daun kembang bulan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923,Propionibacteriumacnes ATCC 11827dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. Penelitian ini dilakukan untukmengetahui karakteristik dan aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun kembang bulan.
Karakterisasi dilakukanmenurut Materia Medika Indonesia edisi VI yang meliputi penetapan kadar air, penetapan kadar sari larut dalam air, penetapan kadar sari larut dalam etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu tidak larut dalam asam. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan secara in vitro dengan metode difusi agar dengan pengenceran ekstrak etanol daun kembang bulan secara serial dengan konsentrasi berturut-turut 300 mg/ml, 250 mg/ml, 200 mg/ml, 150 mg/ml, 100 mg/ml, 75 mg/ml, 50 mg/ml, 25 mg/ml dan 10 mg/ml.
Parameter yang dilihat adalah besarnya diameter hambat pertumbuhan bakteri yang diukur dengan menggunakan jangka sorong. Hasil karakterisasi ekstrak etanol daun kembang bulan menunjukkan kadar air 8,85%, kadar abu total 6,82%, kadar abu total tidak larut asam 0,446%, kadar sari larut dalam air 69,054%, dan kadar sari larut dalam etanol 26,164%. Ekstrak etanol daun kembang bulan mempunyai aktivitas sebagai antibakteri. Aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kembang bulan yang memuaskan pada bakteri Staphylococcus aureus adalahpada konsentrasi 75 mg/ml dengan diameter hambat 14,25 mm, pada bakteri Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa pada konsentrasi 100 mg/ml dengan diameter hambat 15,88 mm dan 15,65 mm.
Tanaman ini digunakan sebagai obat luka atau luka lebam, berkhasiat sebagai obat sakit perut kembung, penyakit lepra, dan penyakit lever.Daun kembang bulan mengandung flavonoida, glikosida, saponin, tanin dan triterpenoid/steroid.Senyawa fenol seperti flavonoid dan tanin memiliki aktivitas sebagai antibakteri.
Adanya kandungan senyawa flavonoid dan tanin tersebut, diharapkan ekstrak daun kembang bulan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923,Propionibacteriumacnes ATCC 11827dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. Penelitian ini dilakukan untukmengetahui karakteristik dan aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun kembang bulan.
Karakterisasi dilakukanmenurut Materia Medika Indonesia edisi VI yang meliputi penetapan kadar air, penetapan kadar sari larut dalam air, penetapan kadar sari larut dalam etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu tidak larut dalam asam. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan secara in vitro dengan metode difusi agar dengan pengenceran ekstrak etanol daun kembang bulan secara serial dengan konsentrasi berturut-turut 300 mg/ml, 250 mg/ml, 200 mg/ml, 150 mg/ml, 100 mg/ml, 75 mg/ml, 50 mg/ml, 25 mg/ml dan 10 mg/ml.
Parameter yang dilihat adalah besarnya diameter hambat pertumbuhan bakteri yang diukur dengan menggunakan jangka sorong. Hasil karakterisasi ekstrak etanol daun kembang bulan menunjukkan kadar air 8,85%, kadar abu total 6,82%, kadar abu total tidak larut asam 0,446%, kadar sari larut dalam air 69,054%, dan kadar sari larut dalam etanol 26,164%. Ekstrak etanol daun kembang bulan mempunyai aktivitas sebagai antibakteri. Aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kembang bulan yang memuaskan pada bakteri Staphylococcus aureus adalahpada konsentrasi 75 mg/ml dengan diameter hambat 14,25 mm, pada bakteri Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa pada konsentrasi 100 mg/ml dengan diameter hambat 15,88 mm dan 15,65 mm.
Skripsi Farmasi Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Umbi dari Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L) Merr)
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Umbi dari Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L) Merr). Telah dilakukan isolasi senyawa flavonoid umbi dari tumbuhan bawang sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr), yang dapat berkhasiat sebagai antiemetik, disuria, radang usus, disentri, penyakit kuning, luka, bisul, diabetes melitus, hipertensi, menurunkan kolesterol, kanker payudara, antimelanogenesis dan sebagai antioksidan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh senyawa flavonoid dari umbi bawang sabrang dan melakukan karakterisasi terhadap senyawa flavonoid dan hasil isolasi dengan spektrofotometri ultraviolet (UV). Terhadap serbuk umbi bawang sabrang dilakukan pemeriksaan karakteristik simplisia dan skrining fitokimia, kemudian diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 80%. Selanjutnya ekstrak etanol dipartisi dengan pelarut n-heksan: air (1:1), kemudian dengan pelarut kloroform : air (1:1), fraksi air direfluks dan difraksinasi dengan etilasetat.
Fraksi etilasetat dianalisis secara kromatografi kertas (KKt) dengan menggunakan lima jenis fase gerak yang berbeda yaitu n-Butanol Asam asetat Air, Forestal, asam asetat 50%, asam asetat 15% dan asam klorida 1%, sedangkan sebagai penampak noda uap NH3, AlCl3 5% dan FeCl3 1%. Fraksi etilasetat dipisahkan dengan KKt preparatif menggunakan fase gerak asam asetat 50% dan isolat yang diperoleh dikarakterisasi dengan spektrofotometri UV menggunakan pereaksi geser (shift reagent).
Hasil pemeriksaan makroskopik umbi bawang sabrang adalah berbentuk bulat telur memanjang, berwarna merah dan tidak berbau, serta berasa pahit. Umbi lapis terdiri dari 5-6 lapisan dengan pangkal daun di tengahnya dan biasanya memiliki panjang 4-5 cm dan diameter 1-3 cm. Hasil penetapan kadar air dari serbuk simplisia diperoleh 8,98%, kadar sari yang larut dalam air 8,03%, kadar sari yang larut dalam etanol 9,63%, kadar abu total 4,32% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,84%.
Hasil skrining fitokimia diperoleh adanya alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, antrakinon glikosida, tanin dan triterpenoid/steroid. Hasil isolasi dari fraksi etilasetat diperoleh dua senyawa yaitu F2 dengan harga Rf= 0,53 (berflouresensi jingga) diduga senyawa flavonoid golongan flavon dengan gugus 5-OH pada cincin A dan F3 dengan harga Rf= 0,79 (berflouresensi biru) diduga senyawa flavonoid golongan flavon 4-OH pada cincin B dan 6,7-diOH.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh senyawa flavonoid dari umbi bawang sabrang dan melakukan karakterisasi terhadap senyawa flavonoid dan hasil isolasi dengan spektrofotometri ultraviolet (UV). Terhadap serbuk umbi bawang sabrang dilakukan pemeriksaan karakteristik simplisia dan skrining fitokimia, kemudian diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 80%. Selanjutnya ekstrak etanol dipartisi dengan pelarut n-heksan: air (1:1), kemudian dengan pelarut kloroform : air (1:1), fraksi air direfluks dan difraksinasi dengan etilasetat.
Fraksi etilasetat dianalisis secara kromatografi kertas (KKt) dengan menggunakan lima jenis fase gerak yang berbeda yaitu n-Butanol Asam asetat Air, Forestal, asam asetat 50%, asam asetat 15% dan asam klorida 1%, sedangkan sebagai penampak noda uap NH3, AlCl3 5% dan FeCl3 1%. Fraksi etilasetat dipisahkan dengan KKt preparatif menggunakan fase gerak asam asetat 50% dan isolat yang diperoleh dikarakterisasi dengan spektrofotometri UV menggunakan pereaksi geser (shift reagent).
Hasil pemeriksaan makroskopik umbi bawang sabrang adalah berbentuk bulat telur memanjang, berwarna merah dan tidak berbau, serta berasa pahit. Umbi lapis terdiri dari 5-6 lapisan dengan pangkal daun di tengahnya dan biasanya memiliki panjang 4-5 cm dan diameter 1-3 cm. Hasil penetapan kadar air dari serbuk simplisia diperoleh 8,98%, kadar sari yang larut dalam air 8,03%, kadar sari yang larut dalam etanol 9,63%, kadar abu total 4,32% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,84%.
Hasil skrining fitokimia diperoleh adanya alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, antrakinon glikosida, tanin dan triterpenoid/steroid. Hasil isolasi dari fraksi etilasetat diperoleh dua senyawa yaitu F2 dengan harga Rf= 0,53 (berflouresensi jingga) diduga senyawa flavonoid golongan flavon dengan gugus 5-OH pada cincin A dan F3 dengan harga Rf= 0,79 (berflouresensi biru) diduga senyawa flavonoid golongan flavon 4-OH pada cincin B dan 6,7-diOH.
Skripsi Farmasi Penetapan Kadar Kalium (K) Dan Zink (Zn) Pada Buah Kurma (Phoenix dactylifera L.) Secara Spektrofotometri Serapan Atom
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Penetapan Kadar Kalium (K) Dan Zink (Zn) Pada Buah Kurma (Phoenix dactylifera L.) Secara Spektrofotometri Serapan Atom. Buah kurma merupakan buah yang banyak dikonsumsi kaum muslim, disamping itu juga digunakan sebagai obat dan makanan.
Buah kurma memiliki banyak khasiat juga mudah dan cepat dicerna. Buah kurma mengandung berbagai unsur penting dan komposisi yang komplit yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Kurma mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral seperti kalium, natrium, zink, kalsium, besi, mangan dan tembaga.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar logam kalium dan zink pada buah kurma Ajwah, kurma Madinah dan kurma Mesir. Analisis kualitatif kalium dilakukan dengan pereaksi asam pikrat 1% b/v dan zink dengan larutan dithizon 0,005%b/v pada pH 5,0. Uji memberikan hasil yang positif untuk kalium dan zink pada ketiga sampel.
Analisis kuantitatif dilakukan dengan spektrofotometri serapan atom pada panjang gelombang 769,9 nm untuk kalium dan 213,9 nm untuk zink. Hasil menunjukkan kadar kalium pada kurma Ajwah yaitu 594,4489 ± 6,3206 mg/100g, kurma Madinah yaitu 566,9722 ± 13,9002 mg/100g, kurma Mesir yaitu 651,5004 ± 8,9773 mg/100g. Sedangkan kadar zink pada kurma Ajwah yaitu 0,5543 ± 0,0110 mg/100g, kurma Madinah yaitu 0,4398 ± 0,0075 mg/100g, kurma Mesir yaitu 0,6181 ± 0,0044 mg/100g.
Secara statistik, uji beda rata-rata kandungan kalium dan zink antara kurma Ajwah, kurma Madinah dan kurma Mesir dengan menggunakan distribusi t, menyimpulkan bahwa kandungan kalium dan zink pada kurma Mesir lebih tinggi secara signifikan dari kurma Ajwah dan kurma Madinah.
Buah kurma memiliki banyak khasiat juga mudah dan cepat dicerna. Buah kurma mengandung berbagai unsur penting dan komposisi yang komplit yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Kurma mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral seperti kalium, natrium, zink, kalsium, besi, mangan dan tembaga.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar logam kalium dan zink pada buah kurma Ajwah, kurma Madinah dan kurma Mesir. Analisis kualitatif kalium dilakukan dengan pereaksi asam pikrat 1% b/v dan zink dengan larutan dithizon 0,005%b/v pada pH 5,0. Uji memberikan hasil yang positif untuk kalium dan zink pada ketiga sampel.
Analisis kuantitatif dilakukan dengan spektrofotometri serapan atom pada panjang gelombang 769,9 nm untuk kalium dan 213,9 nm untuk zink. Hasil menunjukkan kadar kalium pada kurma Ajwah yaitu 594,4489 ± 6,3206 mg/100g, kurma Madinah yaitu 566,9722 ± 13,9002 mg/100g, kurma Mesir yaitu 651,5004 ± 8,9773 mg/100g. Sedangkan kadar zink pada kurma Ajwah yaitu 0,5543 ± 0,0110 mg/100g, kurma Madinah yaitu 0,4398 ± 0,0075 mg/100g, kurma Mesir yaitu 0,6181 ± 0,0044 mg/100g.
Secara statistik, uji beda rata-rata kandungan kalium dan zink antara kurma Ajwah, kurma Madinah dan kurma Mesir dengan menggunakan distribusi t, menyimpulkan bahwa kandungan kalium dan zink pada kurma Mesir lebih tinggi secara signifikan dari kurma Ajwah dan kurma Madinah.
Skripsi Farmasi Penetapan Kadar Kalsium pada Daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) dari Daerah Karo dengan Daerah Pematang Johar Secara Spektrofotometri Serapan Atom
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Penetapan Kadar Kalsium pada Daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) dari Daerah Karo dengan Daerah Pematang Johar Secara Spektrofotometri Serapan Atom. Daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) merupakan sayuran yang dikonsumsi di kalangan masyarakat. Selain harganya yang relatif murah dan mudah di dapat, daun katuk ini sangat baik untuk kesehatan karena mengandung gizi yang cukup tinggi.
Dalam kehidupan sehari – hari, masyarakat mengkonsumsi daun katuk untuk memperlancar produksi ASI, diduga karena kadar kalsium yang cukup tinggi memenuhi kebutuhan tulang bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah daun katuk memiliki kadar kalsium yang berbeda antara daerah Karo dengan daerah Pematang Johar. Analisis kualitatif kalsium (Ca) dilakukan dengan pereaksi H2SO4 1N+etanol dengan nyala Ni/Cr.
Penetapan kadar dilakukan dengan metode spektrofotometri serapan atom nyala udara asetilen pada panjang gelombang 422,7 nm. Hasil penetapan kadar kalsium untuk daerah Karo adalah 440,3404 ± 0,0634 mg/100g, untuk daerah Pematang Johar adalah 274,7853 ± 0,0399 mg/100g. Uji validasi metode memberikan hasil akurasi, batas deteksi dan batas kuantitasi yang dapat diterima dengan persen perolehan kembali untuk Ca adalah 91,4172 % dengan nilai LOD 0,0783 mcg/ml dan LOQ 0,2621 mcg/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun katuk memiliki kadar kalsium yang berbeda antara daerah Karo dengan daerah Pematang Johar.
Dalam kehidupan sehari – hari, masyarakat mengkonsumsi daun katuk untuk memperlancar produksi ASI, diduga karena kadar kalsium yang cukup tinggi memenuhi kebutuhan tulang bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah daun katuk memiliki kadar kalsium yang berbeda antara daerah Karo dengan daerah Pematang Johar. Analisis kualitatif kalsium (Ca) dilakukan dengan pereaksi H2SO4 1N+etanol dengan nyala Ni/Cr.
Penetapan kadar dilakukan dengan metode spektrofotometri serapan atom nyala udara asetilen pada panjang gelombang 422,7 nm. Hasil penetapan kadar kalsium untuk daerah Karo adalah 440,3404 ± 0,0634 mg/100g, untuk daerah Pematang Johar adalah 274,7853 ± 0,0399 mg/100g. Uji validasi metode memberikan hasil akurasi, batas deteksi dan batas kuantitasi yang dapat diterima dengan persen perolehan kembali untuk Ca adalah 91,4172 % dengan nilai LOD 0,0783 mcg/ml dan LOQ 0,2621 mcg/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun katuk memiliki kadar kalsium yang berbeda antara daerah Karo dengan daerah Pematang Johar.
Skripsi Farmasi Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam (Oryza sativa L var forma glutinosa) Sebagai Pewarna
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam (Oryza sativa L var forma glutinosa) Sebagai Pewarna. Beras ketan hitam (Oryza sativa L.) termasuk famili Poaceae, masyarakat menggunakan sebagai bahan makanan seperti tape dan bubur. Beras ketan hitam berwarna merah/ungu, zat warna yang dikandungnya cukup kuat.
Didalam kosmetik, pewarna merupakan salah satu penyebab iritasi dan alergi di kulit, sehingga peneliti membuat formulasi sediaan lipstik dengan menggunakan pewarna alami dari beras ketan hitam. Formulasi sediaan lipstik terdiri dari beberapa komponen diantaranya cera alba, lanolin, vaselin alba, cetaceum, setil alkohol, oleum ricini, propilen glikol, titanium dioksida, butil hidroksi toluen, minyak mawar (oleum rosae) dan nipagin serta penambahan ekstrak beras ketan hitam dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%.
Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan homogenitas, titik lebur, kekuatan lipstik, uji stabilitas terhadap perubahan bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 30 hari pada suhu kamar, uji oles dan pemeriksaan pH, serta uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic test). Formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak beras ketan hitam sebagai pewarna yang dibuat cukup stabil, homogen, titik lebur 65oC, memiliki kekuatan lipstik yang baik, pH berkisar 3,9-6,5 (mendekati pH kulit bibir) mudah dioleskan dengan warna yang merata, serta tidak menyebabkan iritasi sehingga cukup aman untuk digunakan, dan sediaan yang paling disukai adalah sediaan 5 yaitu sediaan dengan ekstrak beras ketan hitam konsentrasi 8% dengan persentase kesukaan 63,33%.
Didalam kosmetik, pewarna merupakan salah satu penyebab iritasi dan alergi di kulit, sehingga peneliti membuat formulasi sediaan lipstik dengan menggunakan pewarna alami dari beras ketan hitam. Formulasi sediaan lipstik terdiri dari beberapa komponen diantaranya cera alba, lanolin, vaselin alba, cetaceum, setil alkohol, oleum ricini, propilen glikol, titanium dioksida, butil hidroksi toluen, minyak mawar (oleum rosae) dan nipagin serta penambahan ekstrak beras ketan hitam dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%.
Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan homogenitas, titik lebur, kekuatan lipstik, uji stabilitas terhadap perubahan bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 30 hari pada suhu kamar, uji oles dan pemeriksaan pH, serta uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic test). Formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak beras ketan hitam sebagai pewarna yang dibuat cukup stabil, homogen, titik lebur 65oC, memiliki kekuatan lipstik yang baik, pH berkisar 3,9-6,5 (mendekati pH kulit bibir) mudah dioleskan dengan warna yang merata, serta tidak menyebabkan iritasi sehingga cukup aman untuk digunakan, dan sediaan yang paling disukai adalah sediaan 5 yaitu sediaan dengan ekstrak beras ketan hitam konsentrasi 8% dengan persentase kesukaan 63,33%.
Skripsi Farmasi Uji aktivitas antijamur ekstrak etanol Rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh Terhadap Jamur Candida albicans
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Uji aktivitas antijamur ekstrak etanol Rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh Terhadap Jamur Candida albicans. Rumput laut sudah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia, yaitu sejak zaman kekaisaran Shen Nung di Cina sekitar tahun 2700 sebelum Masehi.
Salah satu jenis rumput laut yang banyak tumbuh diperairan Indonesia adalah Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Rumput laut memproduksi beberapa jenis senyawa sekunder seperti florotanin, steroid dan sterol. Sargassum merupakan sumber alginate yang digunakan sebagai bahan pembuatan cangkang kapsul, salep, emulsifier dan dapat juga digunakan sebagai bahan pembuat cat rambut dan krim, sedangkan oleh masyarakat setempat jenis ini lebih sering dikonsumsi sebagai sayuran.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antijamur ekstrak etanol rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Tahapan kerja meliputi penyiapan bahan, karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak dan uji aktivitas antijamur terhadap Candida albicans dengan metode difusi agar menggunakan silinder logam.
Pembuatan ekstrak rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh secara maserasi dan soxhletasi dengan pelarut etanol 96% . Karakterisasi simplisia talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh yaitu pemeriksaan makroskopik berbentuk talus, berwarna coklat kehitaman, berbau khas,dan tidak berasa.
Pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia memperlihatkan adanya sel parenkim, sel parenkim berisi pigmen coklat, sel propagule bersel satu, sel propagule bersel dua dan sel propagule bersel tiga. Kadar air 7,96%, kadar sari larut dalam air 5,52%, kadar sari larut dalam etanol 4,77%, kadar abu total 8,59% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,35%. Hasil skrining fitokimia talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh menunjukkan adanya senyawa glikosida dan triterpenoid/steroid. Ekstrak etanol yang diperoleh dengan metode maserasi memiliki daya hambat yang lebih besar daripada ekstrak etanol yang diperoleh dari metode soxhletasi. Konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak etanol terhadap Candida albicans yaitu 10 mg/ml. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan ekstrak etanol talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans.
Salah satu jenis rumput laut yang banyak tumbuh diperairan Indonesia adalah Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Rumput laut memproduksi beberapa jenis senyawa sekunder seperti florotanin, steroid dan sterol. Sargassum merupakan sumber alginate yang digunakan sebagai bahan pembuatan cangkang kapsul, salep, emulsifier dan dapat juga digunakan sebagai bahan pembuat cat rambut dan krim, sedangkan oleh masyarakat setempat jenis ini lebih sering dikonsumsi sebagai sayuran.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antijamur ekstrak etanol rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Tahapan kerja meliputi penyiapan bahan, karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak dan uji aktivitas antijamur terhadap Candida albicans dengan metode difusi agar menggunakan silinder logam.
Pembuatan ekstrak rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh secara maserasi dan soxhletasi dengan pelarut etanol 96% . Karakterisasi simplisia talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh yaitu pemeriksaan makroskopik berbentuk talus, berwarna coklat kehitaman, berbau khas,dan tidak berasa.
Pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia memperlihatkan adanya sel parenkim, sel parenkim berisi pigmen coklat, sel propagule bersel satu, sel propagule bersel dua dan sel propagule bersel tiga. Kadar air 7,96%, kadar sari larut dalam air 5,52%, kadar sari larut dalam etanol 4,77%, kadar abu total 8,59% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,35%. Hasil skrining fitokimia talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh menunjukkan adanya senyawa glikosida dan triterpenoid/steroid. Ekstrak etanol yang diperoleh dengan metode maserasi memiliki daya hambat yang lebih besar daripada ekstrak etanol yang diperoleh dari metode soxhletasi. Konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak etanol terhadap Candida albicans yaitu 10 mg/ml. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan ekstrak etanol talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans.
Skripsi Farmasi Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi-Fraksi Ekstrak Etanol Herba Ranti (Solanum nigrum Linn) dan Isolasi Senyawa Dari Fraksi Aktif
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi-Fraksi Ekstrak Etanol Herba Ranti (Solanum nigrum Linn) dan Isolasi Senyawa Dari Fraksi Aktif. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tak reaktif yang relatif stabil. Senyawa fenolik dan flavonoid merupakan sumber antioksidan alami yang biasanya terdapat dalam tumbuhan.
Herba ranti (Solanum nigrum Linn) merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa fenolik dan flavonoid. Adanya kandungan flavonoid dalam herba ranti tersebut mendorong untuk melakukan pengujian aktivitas antioksidan sehingga dapat digunakan sebagai antioksidan alami. Uji aktivitas antioksidan penangkapan radikal bebas telah dilakukan terhadap fraksi n-heksan, kloroform, etilasetat, air dan senyawa aktif dari fraksi etilasetat dari herb ranti.
Herba ranti diekstraksi secara maserasi dengan mengpgunakan etanol 96% diperolah ekstrak etanol. Kemudian difraksinasi dengan cara ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan, kloroform, etilasetat. Masing-masing fraksi diuji aktivitas antioksidan menggunakan penangkap radikal DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl).
Fraksi etilasetat dikromatografi preparatif dengan menggunakan asam asetat 50% sebagai fase gerak. Kemudian dilihat menggunakan lampu UV dengan penampak bercak 5% b/v aluminium klorida pada panjang gelombang 366 nm. Isolat diidentifikasi dengan menggunakan spektrofotometer UV menggunakan pereaksi geser. Isolasi menghasilkan 2 flavonoid, F1 memiliki harga Rf = 0,48 kemungkinan adalah flavanon dan F2 memiliki harga Rf = 0.59 kemungkinan adalah flavonol dengan gugus 4’OH pada cincin B. kemudian dilakukan uji aktivitas antioksidan terhadap isolat. Hasil uji aktivitas antioksidan keempat fraksi dengan konsentrasi masing-masing 80 µg/ml diperoleh % peredaman fraksi n-heksan 15,22%, fraksi kloroform 68,03%, fraksi etilasetat 68,14% dan fraksi sisa 23,44%.
Sedangkan aktivitas antioksidan isolat dengan konsentrasi masing-masing 80 µg/ml diperoleh % peredaman flavonoid1 (flavanon) 49,70%dan isolat flavonoid 2 (flavonol) 41,21%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi etilasetat mempunyai aktivitas antioksidan paling kuat.
Herba ranti (Solanum nigrum Linn) merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa fenolik dan flavonoid. Adanya kandungan flavonoid dalam herba ranti tersebut mendorong untuk melakukan pengujian aktivitas antioksidan sehingga dapat digunakan sebagai antioksidan alami. Uji aktivitas antioksidan penangkapan radikal bebas telah dilakukan terhadap fraksi n-heksan, kloroform, etilasetat, air dan senyawa aktif dari fraksi etilasetat dari herb ranti.
Herba ranti diekstraksi secara maserasi dengan mengpgunakan etanol 96% diperolah ekstrak etanol. Kemudian difraksinasi dengan cara ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan, kloroform, etilasetat. Masing-masing fraksi diuji aktivitas antioksidan menggunakan penangkap radikal DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl).
Fraksi etilasetat dikromatografi preparatif dengan menggunakan asam asetat 50% sebagai fase gerak. Kemudian dilihat menggunakan lampu UV dengan penampak bercak 5% b/v aluminium klorida pada panjang gelombang 366 nm. Isolat diidentifikasi dengan menggunakan spektrofotometer UV menggunakan pereaksi geser. Isolasi menghasilkan 2 flavonoid, F1 memiliki harga Rf = 0,48 kemungkinan adalah flavanon dan F2 memiliki harga Rf = 0.59 kemungkinan adalah flavonol dengan gugus 4’OH pada cincin B. kemudian dilakukan uji aktivitas antioksidan terhadap isolat. Hasil uji aktivitas antioksidan keempat fraksi dengan konsentrasi masing-masing 80 µg/ml diperoleh % peredaman fraksi n-heksan 15,22%, fraksi kloroform 68,03%, fraksi etilasetat 68,14% dan fraksi sisa 23,44%.
Sedangkan aktivitas antioksidan isolat dengan konsentrasi masing-masing 80 µg/ml diperoleh % peredaman flavonoid1 (flavanon) 49,70%dan isolat flavonoid 2 (flavonol) 41,21%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi etilasetat mempunyai aktivitas antioksidan paling kuat.
Skripsi Farmasi Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Ruku-Ruku (Ocimum sanctum L.) dan Formulasi Sediaan Obat Kumur-Kumur
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Ruku-Ruku (Ocimum sanctum L.) dan Formulasi Sediaan Obat Kumur-Kumur. Daun tumbuhan ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) merupakan salah satu bagian tanaman yang perlu dikembangkan manfaatnya, misalnya untuk mengobati sakit perut, batuk, pencuci luka dan sakit gigi.
Selama ini masyarakat menggunakan daun ruku-ruku sebagai obat sakit gigi, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian pemanfaatan daun ruku-ruku. Pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun ruku-ruku dan sediaan obat kumur yang mengandung ekstrak etanol daun ruku-ruku terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans dan Streptococcus sp. (bakteri isolasi dari specimen) yang dilakukan secara invitro memakai metode difusi agar dengan cakram silinder logam. Sampel daun ruku-ruku diambil secara purposif dari jalan Selamat No. 80, Kecamatan Medan Amplas, Medan.
Hasil aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun ruku-ruku menunjukkan bahwa konsentrasi hambat minimum terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans dan Streptococcus sp (bakteri isolasi dari specimen) yaitu sebesar 40 mg/ml. Ekstrak etanol daun ruku-ruku memberikan batas daerah hambat yang efektif pada konsentrasi 90 mg/ml terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan diameter 14 mm pada konsentrasi 80 mg/ml terhadap bakteri Streptococcus mutans dengan diameter 14,3 mm pada konsentrasi 90 mg/ml terhadap bakteri Streptococcus sp (bakteri isolasi dari specimen) dengan diameter 14,7 mm.
Pengujian sediaan obat kumur-kumur ekstrak etanol daun ruku-ruku pada FI, FII dan FIII memberikan hasil diameter zona hambatan yang memuaskan terhadap ketiga bakteri yaitu lebih besar dari 14 mm terhadap bakteri Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus sp. (bakteri isolasi dari specimen).
Selama ini masyarakat menggunakan daun ruku-ruku sebagai obat sakit gigi, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian pemanfaatan daun ruku-ruku. Pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun ruku-ruku dan sediaan obat kumur yang mengandung ekstrak etanol daun ruku-ruku terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans dan Streptococcus sp. (bakteri isolasi dari specimen) yang dilakukan secara invitro memakai metode difusi agar dengan cakram silinder logam. Sampel daun ruku-ruku diambil secara purposif dari jalan Selamat No. 80, Kecamatan Medan Amplas, Medan.
Hasil aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun ruku-ruku menunjukkan bahwa konsentrasi hambat minimum terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans dan Streptococcus sp (bakteri isolasi dari specimen) yaitu sebesar 40 mg/ml. Ekstrak etanol daun ruku-ruku memberikan batas daerah hambat yang efektif pada konsentrasi 90 mg/ml terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan diameter 14 mm pada konsentrasi 80 mg/ml terhadap bakteri Streptococcus mutans dengan diameter 14,3 mm pada konsentrasi 90 mg/ml terhadap bakteri Streptococcus sp (bakteri isolasi dari specimen) dengan diameter 14,7 mm.
Pengujian sediaan obat kumur-kumur ekstrak etanol daun ruku-ruku pada FI, FII dan FIII memberikan hasil diameter zona hambatan yang memuaskan terhadap ketiga bakteri yaitu lebih besar dari 14 mm terhadap bakteri Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus sp. (bakteri isolasi dari specimen).
Skripsi Farmasi Penetapan Kadar Kadar Vitamin C dari Buah Melon Secara Volumetri dengan 2,6 – Diklorofenol Indofenol
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Penetapan Kadar Kadar Vitamin C dari Buah Melon Secara Volumetri dengan 2,6 – Diklorofenol Indofenol. Melon merupakan salah satu komoditas pertanian unggulan yang dianggap memiliki prospek yang baik dalam pemasarannya. Daya tarik melon mempunyai kharisma tersendiri di kalangan konsumen maupun produsen (petani).
Permintaan pasar (konsumen) cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu, karena makin digemari oleh berbagai kalangan masyarakat. Selain itu, buah melon juga sangat bermanfaat bagi kesehatan karena zat-zat gizi yang dikandungnya seperti kalsium, fosfor, serat, vitamin A, B dan C. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar vitamin C dari buah melon. Sampel buah melon yang digunakan berasal dari daerah Deli Serdang di Desa Rambungan Kecamatan Batang Kuis (Sumatera Utara), Calang di Desa Ranto Moreu Kecamatan Panga (NAD), Beureunuen di Desa Tiba Raya Kecamatan Mutiara Timur (NAD) dan melon Rock (Medan).
Penetapan kadar vitamin C dilakukan dengan metode volumetri dengan 2,6-diklorofenol indofenol karena larutan 2,6-diklorofenol indofenol selektif terhadap vitamin C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar vitamin C dari buah melon yang berasal Deli Serdang (29,35 mg/100 g), asal Calang (29,87 mg/100 g), asal Beureunuen (28,83 mg/100 g), dan melon Rock (30,93 mg/100 g).
Secara statistika menggunakan Software SPSS diketahui adanya perbedaan kadar vitamin C antara melon yang berasal dari Calang dengan Beureunuen, antara melon Rock dengan melon yang berasal dari Deli Serdang, Calang dan Beureunuen tetapi tidak terdapat perbedaan antara melon yang berasal dari Deli Serdang dengan Calang, antara melon yang berasal dari Deli Serdang dengan Beureunuen. Pada uji validasi metode diperoleh persen recovery sebesar 93,43% dan RSD sebesar 1,54%.
Permintaan pasar (konsumen) cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu, karena makin digemari oleh berbagai kalangan masyarakat. Selain itu, buah melon juga sangat bermanfaat bagi kesehatan karena zat-zat gizi yang dikandungnya seperti kalsium, fosfor, serat, vitamin A, B dan C. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar vitamin C dari buah melon. Sampel buah melon yang digunakan berasal dari daerah Deli Serdang di Desa Rambungan Kecamatan Batang Kuis (Sumatera Utara), Calang di Desa Ranto Moreu Kecamatan Panga (NAD), Beureunuen di Desa Tiba Raya Kecamatan Mutiara Timur (NAD) dan melon Rock (Medan).
Penetapan kadar vitamin C dilakukan dengan metode volumetri dengan 2,6-diklorofenol indofenol karena larutan 2,6-diklorofenol indofenol selektif terhadap vitamin C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar vitamin C dari buah melon yang berasal Deli Serdang (29,35 mg/100 g), asal Calang (29,87 mg/100 g), asal Beureunuen (28,83 mg/100 g), dan melon Rock (30,93 mg/100 g).
Secara statistika menggunakan Software SPSS diketahui adanya perbedaan kadar vitamin C antara melon yang berasal dari Calang dengan Beureunuen, antara melon Rock dengan melon yang berasal dari Deli Serdang, Calang dan Beureunuen tetapi tidak terdapat perbedaan antara melon yang berasal dari Deli Serdang dengan Calang, antara melon yang berasal dari Deli Serdang dengan Beureunuen. Pada uji validasi metode diperoleh persen recovery sebesar 93,43% dan RSD sebesar 1,54%.
Skripsi Farmasi Efek Ekstrak Etanol Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrizha Roxb.) Terhadap Kontraksi Otot Polos Ileum Tikus (Rattus novergicus) Jantan Terisolasi Secara In Vitro
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Efek Ekstrak Etanol Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrizha Roxb.) Terhadap Kontraksi Otot Polos Ileum Tikus (Rattus novergicus) Jantan Terisolasi Secara In Vitro. Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat berlimpah, diantaranya kekayaan flora yang banyak dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat. Saat ini, kesadaran masyarakat untuk menggunakan tumbuhan obat dalam mengatasi masalah kesehatan semakin tinggi.
Salah satunya penggunaan temulawak sebagai anti diare kerap dilakukan masyrakat Indonesia dalam mengatasi diare.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak rimpang temulawak pada kontraksi ileum tikus terisolasi yang sebelumnya dikontraksikan dengan pemberian asetilkolin. Dalam penelitian ini digunakan hewan uji tikus dan dibuat sediaan ileum tikus terisolasi dalam media larutan fisiologis tirode pada suhu 37oC.
Alat yang digunakan adalah organ bath yang dikaitkan pada tranduser daya dan dihubungkan dengan recorder untuk mengubah hasil rekaman menjadi data digital.Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pemberian asetilkolin meningkatkan kontraksi ileum tikus. Pemberian atropin sebelum pemberian asetilkolin dapat menghambat kontraksi yang ditimbulkan oleh asetilkolin, dan pemberian ekstrak rimpang temulawak sebelum asetilkolin juga menghambat kontraksi ileum yang disebabkan oleh asetilkolin. Adanya persamaan respon antara ekstrak temulawak dengan atropin menunjukkan bahwa ekstrak temulawak bekerja sebagai antagonis melalui reseptor muskarinik.
Salah satunya penggunaan temulawak sebagai anti diare kerap dilakukan masyrakat Indonesia dalam mengatasi diare.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak rimpang temulawak pada kontraksi ileum tikus terisolasi yang sebelumnya dikontraksikan dengan pemberian asetilkolin. Dalam penelitian ini digunakan hewan uji tikus dan dibuat sediaan ileum tikus terisolasi dalam media larutan fisiologis tirode pada suhu 37oC.
Alat yang digunakan adalah organ bath yang dikaitkan pada tranduser daya dan dihubungkan dengan recorder untuk mengubah hasil rekaman menjadi data digital.Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pemberian asetilkolin meningkatkan kontraksi ileum tikus. Pemberian atropin sebelum pemberian asetilkolin dapat menghambat kontraksi yang ditimbulkan oleh asetilkolin, dan pemberian ekstrak rimpang temulawak sebelum asetilkolin juga menghambat kontraksi ileum yang disebabkan oleh asetilkolin. Adanya persamaan respon antara ekstrak temulawak dengan atropin menunjukkan bahwa ekstrak temulawak bekerja sebagai antagonis melalui reseptor muskarinik.
Skripsi Farmasi Pengaruh Minuman Ionik Terhadap Efek Antipiretik Parasetamol Pada Merpati Jantan (Columba Livia)
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Pengaruh Minuman Ionik Terhadap Efek Antipiretik Parasetamol Pada Merpati Jantan (Columba Livia). Telah dilakukan uji efek antipiretik dari minuman ionik (terutama mengandung natrium dan kalium) yang beredar di pasaran, terhadap merpati jantan (Columba livia) yang dikondisikan dalam keaadaan demam dengan pemberian secara injeksi larutan 2,4-dinitrofenol dosis 8 mg/Kg BB secara intramuskular pada daerah otot dada.
Minuman ionik yang diuji, sebelumnya ditentukan kandungan natrium dan kalium menggunakan spektrofotometer serapan atom dengan lampu katoda Na dan K. Analisis kuantitatif natrium dan kalium dilakukan pada panjang gelombang berturut-turut 589,6 nm dan 769,9 nm. Hasil penetapan kadar natrium untuk minuman ionik merek dagang PW adalah 465,216 ± 2,433 mcg/ml, untuk minuman ionik merek dagang MZ adalah 325,425 ± 1,723 mcg/ml, untuk minuman ionik GR adalah 380,425 ± 5,030 mcg/ml.
Hasil penetapan kadar kalium untuk minuman ionik merek dagang PW adalah 169,936 ± 2,002 mcg/ml, untuk minuman ionik merek dagang MZ adalah 320,298 ± 3,338 mcg/ml, untuk minuman ionik GR adalah 265,616 ± 1,560 mcg/ml. Merpati jantan (Columba livia) yang dikondisikan dalam keadaan demam dengan dehidrasi diberikan secara oral suspensi serbuk tablet parasetamol dosis 300 mg/Kg BB tunggal, minuman ionik dosis 4,28 ml/Kg BB tunggal yang dilakukan secara berulang-ulang dengan selang waktu 30 menit selama 120 menit, kombinasi minuman ionik dosis 4,28 ml/Kg BB yang dilakukan secara berulang-ulang dengan selang waktu 30 menit selama 120 menit dengan suspensi serbuk tablet parasetamol dosis 300 mg/Kg BB.
Parameter efek antipiretik ditentukan dengan mengukur suhu tubuh merpati pada bagian rektal. Hasil pengujian efek antipiretik menunjukkan bahwa pemberian minuman ionik secara tunggal maupun kombinasi dengan parasetamol menunjukkan perbedaan efek antipiretik yang tidak bermakna secara statistik. Tetapi untuk pemberian suspensi serbuk tablet parasetamol dosis 300 mg/Kg BB tunggal memberikan efek antipiretik yang lebih baik.
Minuman ionik yang diuji, sebelumnya ditentukan kandungan natrium dan kalium menggunakan spektrofotometer serapan atom dengan lampu katoda Na dan K. Analisis kuantitatif natrium dan kalium dilakukan pada panjang gelombang berturut-turut 589,6 nm dan 769,9 nm. Hasil penetapan kadar natrium untuk minuman ionik merek dagang PW adalah 465,216 ± 2,433 mcg/ml, untuk minuman ionik merek dagang MZ adalah 325,425 ± 1,723 mcg/ml, untuk minuman ionik GR adalah 380,425 ± 5,030 mcg/ml.
Hasil penetapan kadar kalium untuk minuman ionik merek dagang PW adalah 169,936 ± 2,002 mcg/ml, untuk minuman ionik merek dagang MZ adalah 320,298 ± 3,338 mcg/ml, untuk minuman ionik GR adalah 265,616 ± 1,560 mcg/ml. Merpati jantan (Columba livia) yang dikondisikan dalam keadaan demam dengan dehidrasi diberikan secara oral suspensi serbuk tablet parasetamol dosis 300 mg/Kg BB tunggal, minuman ionik dosis 4,28 ml/Kg BB tunggal yang dilakukan secara berulang-ulang dengan selang waktu 30 menit selama 120 menit, kombinasi minuman ionik dosis 4,28 ml/Kg BB yang dilakukan secara berulang-ulang dengan selang waktu 30 menit selama 120 menit dengan suspensi serbuk tablet parasetamol dosis 300 mg/Kg BB.
Parameter efek antipiretik ditentukan dengan mengukur suhu tubuh merpati pada bagian rektal. Hasil pengujian efek antipiretik menunjukkan bahwa pemberian minuman ionik secara tunggal maupun kombinasi dengan parasetamol menunjukkan perbedaan efek antipiretik yang tidak bermakna secara statistik. Tetapi untuk pemberian suspensi serbuk tablet parasetamol dosis 300 mg/Kg BB tunggal memberikan efek antipiretik yang lebih baik.
Skripsi Farmasi Penggunaan Pharmacoat 615 sebagai Bahan Pengikat pada Pembuatan Tablet Asam Folat secara Granulasi Basah
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Penggunaan Pharmacoat 615 sebagai Bahan Pengikat pada Pembuatan Tablet Asam Folat secara Granulasi Basah. Telah dilakukan penelitian pembuatan tablet Asam folat dengan bahan pengikat Pharmacoat 615 secara granulasi basah. Konsentrasi bahan pengikat yang ditambahkan adalah 1%, 3%, 5%, 7% dan 9%, dan hasilnya dibandingkan dengan bahan pengikat Amilum manihot 10%.
Tablet yang dihasilkan dievaluasi dengan menggunakan parameter antara lain: kekerasan, friabilitas, waktu hancur, penetapan kadar, keseragaman sediaan dan disolusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tablet Asam folat dengan bahan pengikat Pharmacoat 615 memiliki tampilan dan kualitas uji tablet jadi yang lebih baik dari pada tablet Asam folat dengan bahan pengikat Amilum manihot.
Semakin tinggi konsentrasi Pharmacoat 615 sebagai bahan pengikat mengakibatkan waktu hancur dan laju disolusi tablet Asam folat yang semakin lambat. Adapun konsentrasi Pharmacoat 615 yang dapat digunakan sebagai bahan pengikat pada pembuatan tablet Asam folat secara granulasi basah adalah pada konsentrasi 5%. Pada konsentrasi tersebut tablet yang dihasilkan memenuhi persyaratan penetapan kadar, keragaman kandungan, kekerasan, friabilitas, waktu hancur dan laju disolusi.
Tablet yang dihasilkan dievaluasi dengan menggunakan parameter antara lain: kekerasan, friabilitas, waktu hancur, penetapan kadar, keseragaman sediaan dan disolusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tablet Asam folat dengan bahan pengikat Pharmacoat 615 memiliki tampilan dan kualitas uji tablet jadi yang lebih baik dari pada tablet Asam folat dengan bahan pengikat Amilum manihot.
Semakin tinggi konsentrasi Pharmacoat 615 sebagai bahan pengikat mengakibatkan waktu hancur dan laju disolusi tablet Asam folat yang semakin lambat. Adapun konsentrasi Pharmacoat 615 yang dapat digunakan sebagai bahan pengikat pada pembuatan tablet Asam folat secara granulasi basah adalah pada konsentrasi 5%. Pada konsentrasi tersebut tablet yang dihasilkan memenuhi persyaratan penetapan kadar, keragaman kandungan, kekerasan, friabilitas, waktu hancur dan laju disolusi.
Skripsi Farmasi Studi Penetapan Kadar Capozid Dalam Sediaan Tablet
Download Kumpulan Skripsi Farmasi Lengkap – Studi Penetapan Kadar Capozid Dalam Sediaan Tablet. Tablet Kombinasi Kaptopril dan Hidroklorotiazid merupakan salah satu sediaan obat yang sering digunakan dalam pengobatan hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metode penentuan kadar dan untuk menetapkan kadar Kaptopril dan Hidroklorotiazid dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran apakah memenuhi persyaratan mutu obat. Sehingga dengan kadar yang tepat obat dapat memberikan efek terapi yang dikehendaki.
Penetapan kadar Kaptopril dan Hidroklorotiazid dalam sediaan tablet dilakukan bersamaan secara analisis multikomponen (spektrofotometri ultraviolet) dengan menggunakan pelarut natrium hidroksida 0,1 N, Kaptopril diukur pada panjang gelombang 237 nm, Hidroklorotiazid diukur pada panjang gelombang 273 nm; Kaptopril secara Iodatometri dan Hdroklorotiazid secara Spektrofotometri Sinar Tampak. Uji validitas dilakukan berdasarkan parameter akurasi (dengan metode penambahan baku) dan presisi (keseksamaan).
Diperoleh kadar Kaptopril dan Hidroklorotiazid dalam sediaan tablet Capozid(Bristol Meyer Squibb) dengan metode analisis multikomponen (Spektrofotometri Ultraviolet) berturut-turut sebesar 96,51 % ± 2,1753 dan 103,21% ± 0,7150. Kaptopril secara Iodatometri sebesar 95,38% ± 0.0540 dan Hidroklorotiazid secara Spektrofotometri Sinar Tampak sebesar 98,03% ± 0,0945. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Kaptopril dan Hidroklorotiazid dalam sediaan tablet Capozid memenuhi standar persyaratan tablet menurut The United States Pharmacopeia 30 yaitu tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada etiket.
Penetapan kadar Kaptopril dan Hidroklorotiazid dalam sediaan tablet dilakukan bersamaan secara analisis multikomponen (spektrofotometri ultraviolet) dengan menggunakan pelarut natrium hidroksida 0,1 N, Kaptopril diukur pada panjang gelombang 237 nm, Hidroklorotiazid diukur pada panjang gelombang 273 nm; Kaptopril secara Iodatometri dan Hdroklorotiazid secara Spektrofotometri Sinar Tampak. Uji validitas dilakukan berdasarkan parameter akurasi (dengan metode penambahan baku) dan presisi (keseksamaan).
Diperoleh kadar Kaptopril dan Hidroklorotiazid dalam sediaan tablet Capozid(Bristol Meyer Squibb) dengan metode analisis multikomponen (Spektrofotometri Ultraviolet) berturut-turut sebesar 96,51 % ± 2,1753 dan 103,21% ± 0,7150. Kaptopril secara Iodatometri sebesar 95,38% ± 0.0540 dan Hidroklorotiazid secara Spektrofotometri Sinar Tampak sebesar 98,03% ± 0,0945. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Kaptopril dan Hidroklorotiazid dalam sediaan tablet Capozid memenuhi standar persyaratan tablet menurut The United States Pharmacopeia 30 yaitu tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada etiket.
Langganan:
Postingan (Atom)
