Minggu, 29 September 2013

Skripsi Farmasi Pemeriksaan Formalin Pada Bakso Yang Dijual Di Sekolah Dasar Di Kota Medan

Download Kumpulan Contoh Proposal dan Skripsi Farmasi Lengkap – Pemeriksaan Formalin Pada Bakso Yang Dijual Di Sekolah Dasar Di Kota Medan. Penggunaan formalin sudah dilarang dalam makanan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1168 tahun 1999, tetapi kenyataannya masih banyak makanan termasuk bakso yang mengandung formalin. Tujuan penelitian ini adalah untuk memeriksa formalin yang terdapat pada bakso yang dijual di sekolah dasar di kota Medan.

Dua puluh satu sampel yang dianalisis diambil dari dua puluh satu Sekolah Dasar yang tersebar di dua puluh satu kecamatan. Pemeriksaan kualitatif dilakukan menggunakan pereaksi asam kromatropat menghasilkan perwarnaan violet. Penetapan kadar dilakukan secara spektrofotometri sinar tampak menggunakan pereaksi Nash pada panjang gelombang 412 nm.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh sampel positif mengandung formalin. Kadar yang diperoleh berkisar antara 20,71 mcg/g hingga 49,44 mcg/g, dimana kadar yang paling rendah terdapat di SD Negeri 060794 dan kadar yang paling tinggi terdapat di SD Swasta Mardi Lestari. Hasil perolehan kembali yang diperoleh adalah 114,05% dengan batas deteksi sebesar 0,05 mcg/ml dan batas kuantitasi sebesar 0,19 mcg/ml.

Skripsi Farmasi Penetapan Kadar Akrilamida pada Keripik Singkong yang Berasal dari Pasar Swalayan dan Pasar Tradisional di Kota Medan secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

Download Kumpulan Contoh Proposal dan Skripsi Farmasi Lengkap – Penetapan Kadar Akrilamida pada Keripik Singkong yang Berasal dari Pasar Swalayan dan Pasar Tradisional di Kota Medan secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Akrilamida merupakan suatu senyawa toksik yang ditemukan dalam beragam jenis makanan yang kaya karbohidrat yang dimasak pada suhu yang tinggi dan waktu yang lama.

Salah satu jenis makanan ringan yang mengandung karbohidrat dan banyak digemari oleh masyarakat di Indonesia adalah keripik singkong. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar akrilamida dalam keripik singkong yang terdapat di kota Medan. Untuk mengkaji hal ini, maka dilakukan penelitian dengan mengambil beberapa sampel keripik singkong yang berasal dari pasar swalayan dan pasar tradisional untuk mewakili keripik singkong yang berada di kota Medan.

Kadar akrilamida dianalisa dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) fase balik menggunakan kolom Shim-Pack VP_ODS (4,6 x 250 nm), perbandingan fase gerak asetonitril dan asam fosfat 21,7 mM (5:95), laju alir 1 ml/menit dan detektor uv pada panjang gelombang 230 nm. Validasi metode menunjukkan bahwa prosedur penelitian yang dilakukan memiliki akurasi dan presisi yang baik yakni dengan persen perolehan kembali 115,78% (RSD = 1,41%). Sedangkan batas deteksi dan batas kuantitasi berturut-turut adalah 0,21 mcg/ml dan 0,69 mcg/ml. Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa kadar akrilamida dalam keripik singkong yang berasal dari pasar tradisional yaitu sebesar 1900-5500 mcg/kg sampel dan jauh lebih besar dari kadar akrilamida dalam keripik singkong yang berasal dari pasar swalayan yaitu sebesar 850-1300 mcg/kg sampel.

Skripsi Farmasi Isolasi Dan Karakterisasi Senyawa Alkaloid Dari Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus)

Download Kumpulan Contoh Proposal dan Skripsi Farmasi Lengkap – Isolasi Dan Karakterisasi Senyawa Alkaloid Dari Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus). Tumbuhan bawang sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) merupakan salah satu tumbuhan yang dapat digunakan untuk pengobatan sembelit, disuria, radang usus, disentri, luka, bisul, peluruh muntah, penyakit kuning, kanker payudara, diabetes melitus, hipertensi, menurunkan kolesterol, antimelanogenesis dan sebagai antioksidan. Salah satu kandungan kimia dari umbi bawang sabrang yaitu alkaloid.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengekstraksi dan mengisolasi senyawa alkaloid dari umbi bawang sabrang dan melakukan karakterisasi isolat dengan spektrofotometer ultraviolet (UV) dan inframerah (IR). Serbuk simplisia dikarakterisasi dan diskrining fitokimia kemudian diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut etanol 80% yang dilanjutkan dengan prosedur pengocokan asam basa. Ekstrak alkaloid kasar dianalisa secara KLT dengan fase gerak kloroform-metanol-amonia, toluen-etilasetat, benzen-etilasetat dengan beberapa perbandingan, sebagai penampak bercak digunakan pereaksi Bouchardat. Selanjutnya dilakukan pemisahan dengan KLT preparatif menggunakan fase gerak toluen-etilasetat (9:1).

Kemudian isolat dikarakterisasi dengan spektrofotometer UV dan IR. Hasil makroskopik umbi bawang sabrang segar adalah berbentuk bulat telur memanjang, berwarna merah, tidak berbau serta berasa pahit. Umbi lapis terdiri dari 5-6 lapisan, dan panjang umbi 4-5 cm dan diameter 1-3 cm. Hasil mikroskopik serbuk simplisia umbi bawang sabrang dijumpai adanya kristal Ca-oksalat, parenkim, xylem dengan penebalan dinding sel berupa tangga (skalariform) dan butir amilum. Hasil penetapan kadar air diperoleh 8, 98%, kadar sari yang larut dalam air 8,03%, kadar sari yang larut dalam etanol 9,63%, kadar abu total 4,32%, kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,84%. Hasil skrining fitokimia diperoleh senyawa golongan alkaloid, flavonoid, steroid/triterpenoid, glikosida, glikosida antrakinon, dan saponin. Hasil isolasi dari ekstrak alkaloid kasar diperoleh dua isolat murni yaitu isolat A (Rf 0,51) dan isolat B (Rf 0,57). Isolat A memberikan absorbansi maksimum pada panjang gelombang 270 nm, dan isolat B 271 nm. Hasil spektrofotometri inframerah menunjukkan adanya gugus C-H alifatis, CH2, C=O, C=C, C-N, C-O (isolat A) dan gugus C-H alifatis, CH2, CH3, C=C, C-N dan C-O (isolat B).

Skripsi Farmasi Uji Efek Antidiare Ekstrak Etanol Buah Tanaman Sawo (Achras zapota L.) Terhadap Mencit Jantan

Download Kumpulan Contoh Proposal dan Skripsi Farmasi Lengkap – Uji Efek Antidiare Ekstrak Etanol Buah Tanaman Sawo (Achras zapota L.) Terhadap Mencit Jantan. Tanaman sawo (Achras zapota L.) merupakan tumbuhan tropis yang cukup luas penyebarannya di Indonesia. Getah dari buah atau buah sawo yang masih muda sering digunakan masyarakat untuk mengatasi diare. Khasiatnya sebagai antidiare ini diduga karena adanya kandungan tanin dalam jumlah yang cukup besar pada buah sawo yang masih muda.

Pada penelitian ini dilakukan karakterisasi simplisia terhadap kadar air, kadar abu total, kadar abu yang tidak larut dalam asam, kadar sari yang larut dalam etanol, kadar sari yang larut dalam air. Skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui adanya senyawa alkaloid, flavonoid, glikosida, steroid/triterpenoid dan tanin pada buah sawo muda. Pengujian efek antidiare ekstrak etanol buah sawo terhadap mencit jantan dilakukan dengan metode induksi minyak jarak.

Ekstrak etanol buah sawo diberikan secara oral dengan dosis 1 g, 2 g, dan 2,5 g/ kg BB. Pengamatan meliputi jumlah mencit diare, konsistensi feses, frekuensi defekasi, bobot feses, serta jangka waktu terjadinya diare. Respon yang terjadi pada tiap mencit diamati selama 6 jam selang waktu 30 menit. Pemeriksaan simplisia buah sawo menghasilkan kadar air 15,33%, kadar abu total 1,89%, kadar abu yang tidak larut asam 0,95%, kadar sari yang larut dalam etanol 37,45%, kadar sari yang larut dalam air 38,01%. Hasil skrining fitokimia simplisia buah sawo menunjukkan adanya flavonoid, glikosida, dan tanin. Hasil pengujian efek antidiare ekstrak etanol buah sawo pada dosis 2,5 g/kg BB sebanding dengan Loperamid HCl 2 mg/kg BB.

Skripsi Farmasi Analisis Cemaran Timbal, Kadmium Dan Seng Dalam Sawi (Brassica chinensis L.) Yang Ditanam Di Sekitar Kawasan Industri Medan-Belawan Secara Spektrofotometri Serapan Atom

Download Kumpulan Contoh Proposal dan Skripsi Farmasi Lengkap – Analisis Cemaran Timbal, Kadmium Dan Seng Dalam Sawi (Brassica chinensis L.) Yang Ditanam Di Sekitar Kawasan Industri Medan-Belawan Secara Spektrofotometri Serapan Atom. Sawi merupakan jenis sayuran yang banyak digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Sayuran ini banyak mengandung vitamin dan mineral. Tanaman khususnya sayuran, merupakan mediator penyerapan logam. Sayuran yang ditanam di sekitar industri baja akan tercemar logam timbal, kadmium dan seng.

Penetapan kadar untuk logam kadmium dan seng dilakukan dengan cara spektrofotometri serapan atom nyala asetilen-udara sedangkan logam timbal dilakukan dengan spektrofotometri serapan atom cara graphite furnace. Analisis kualitatif timbal, kadmium dan seng dilakukan dengan pereaksi dithizon 0,005% b/v dalam suasana pH yang berbeda-beda. Uji memberikan hasil yang positif untuk timbal, kadmium dan seng pada kedua sampel. Analisis kuantitatif timbal, kadmium dan seng dilakukan dengan spektrofotometri serapan atom masing-masing pada panjang gelombang 217,0 nm; 228,8 nm dan 213,9 nm.

Hasil pada sawi segar menunjukkan kadar rata-rata timbal adalah 0,1155 ± 0,0045 mg/kg, kadar rata-rata kadmium adalah 0,2100 ± 0,0053 mg/kg dan kadar rata-rata seng adalah 2,8039 ± 0,0551 mg/kg. Sedangkan pada sawi rebus menunjukkan kadar rata-rata timbal adalah 0,0959 ± 0,0021 mg/kg, kadar rata-rata kadmium adalah 0,1383 ± 0,0070 mg/kg dan kadar rata-rata seng adalah 2,1105 ± 0,0837 mg/kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sawi telah tercemar logam timbal, kadmium dan seng, dan sawi segar untuk logam kadmium yaitu 0,2100 ± 0,0053 mg/kg telah melewati ambang batas dari yang telah ditetapkan oleh WHO yaitu 0,2000 mg/kg, sedangkan perebusan menurunkan kadar ketiga logam tersebut.

Skripsi Farmasi Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi n-Heksana, Etilasetat Dan Etanol Daun Kecapi (Sandoricum koetjape Merr.) Terhadap Beberapa Bakteri Penyebab Penyakit Kulit Secara In Vitro

Download Kumpulan Contoh Proposal dan Skripsi Farmasi Lengkap – Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi n-Heksana, Etilasetat Dan Etanol Daun Kecapi (Sandoricum koetjape Merr.) Terhadap Beberapa Bakteri Penyebab Penyakit Kulit Secara In Vitro. Telah dilakukan penelitian mikrobiologi terhadap uji aktivitas antibakteri dari fraksi n-heksana, etilasetat dan etanol terhadap beberapa bakteri penyebab penyakit kulit dari daun kecapi terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis, Streptococcus viridans, Pseudomonas aeruginosa dan Citrobacter diversus. Fraksi n-heksana, etilasetat dan etanol diperoleh dengan metode maserasi menggunakan n-heksana lalu etilasetat dan terakhir dengan etanol 96%.

Uji aktivitas secara in-vitro dilakukan dalam berbagai konsentrasi dengan metode difusi agar dengan pencetak lubang (Punch hole) menggunakan media Mueller Hinton Agar. Sebagai ukuran aktivitas diukur daerah hambatan pertumbuhan bakteri. Hasil uji aktivitas antimikroba menunjukkan bahwa pengujian dengan menggunakan fraksi n-heksana daun kecapi tidak memberikan batas daerah hambat yang efektif terhadap keempat bakteri, dilanjutkan dengan menggunakan fraksi etilasetat daun kecapi memberikan batas daerah hambat yang efektif terhadap ketiga bakteri Staphylococcus epidermidis, Streptococcus viridans dan Citrobacter diversus dengan konsentrasi berbeda sedang untuk Pseudomonas aeruginosa tidak memberikan batas daerah hambat yang efektif. Terakhir dengan menggunakan fraksi etanol memberikan batas daerah hambat yang efektif terhadap keempat bakteri dengan konsentrasi yang berbeda. Dari hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa fraksi etanol yang paling efektif terhadap keempat bakteri yang diuji Staphylococcus epidermidis, Streptococcus viridans, Pseudomonas aeruginosa, Citrobacter diversus).

Skripsi Farmasi Penetapan Kadar Rifampisin dan Isoniazid dalam Sediaan Tablet Secara Multikomponen dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet

Download Kumpulan Contoh Proposal dan Skripsi Farmasi Lengkap – Penetapan Kadar Rifampisin dan Isoniazid dalam Sediaan Tablet Secara Multikomponen dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet. TBC merupakan penyakit infeksi yang paling mematikan dan penyebab kematian nomor dua setelah penyakit jantung. Jumlah penderita TBC di Indonesia sebanyak 583.000 orang, Cina 2 juta dan India 1,5 juta.

Tablet kombinasi rifampisin dan isoniazid merupakan salah satu sediaan obat yang sering digunakan dalam pengobatan TBC. Tujuan penelitian ini adalah menetapkan kadar rifampisin dan isoniazid dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran secara spektrofotometri ultraviolet. Penetapan kadar rifampisin dan isoniazid dalam sediaan tablet dilakukan dengan metode spektrofotometri ultraviolet secara multikomponen menggunakan pelarut asam klorida 0,1 N pada panjang gelombang 230 nm dan 266 nm.

Diukur validitasnya berdasarkan parameter akurasi (metode penambahan baku) dan presisi. Rifampisin dan isoniazid baku (PT. Indofarma) sebelum digunakan terlebih dahulu diidentifikasi menggunakan spektrofotometer FTIR. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa baku yang ditentukan adalah rifampisin dan isoniazid. Dari hasil penelitian diperoleh kadar rifampisin yaitu campuran baku (PT. Indofarma) 100,73% ± 0,07%, tablet generik (PT. Indofarma) 100,19% ± 0,21%, tablet Rimactazid® (PT. Sandoz) 101,13% ± 0,23%, sedangkan kadar isoniazid yaitu campuran baku (PT. Indofarma) 99,48% ± 0,07%, tablet generik (PT. Indofarma) 100,63% ± 0,25%, tablet Rimactazid® (PT. Sandoz) 98,96% ± 0,30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar rifampisin dan isoniazid dalam sediaan tablet yang diteliti memenuhi persyaratan tablet menurut The United States Pharmacopeia 30 yaitu tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada etiket.